Sep 17 2008

Santri Nekat

Published by at 8:35 am under Sinopsis

Jaka seorang anak jalanan, ia hidup sebatang kara. Pekerjaannya suka mencuri. Suatu ketika ia mencuri di sebuah pondok pesantren. Namun rupanya nasib tak berpihak. Ia dihakimi oleh semua santri hingga tubuhnya tak berdaya untuk berdiri.

Namun peristiwa itu langsung berhenti ketika Pak Kyai Hasan datang. Setelah bertemu Pak Kyai Hasan akhirnya Jaka mempunyai perjanjian yang mana pilihan itu adalah jika ia tak mau dilaporkan kepada yang berwajib. Perjanjian itu adalah jaka masuk Islam, mengumandangkan adzan setiap tiba waktu shalat, dan mengisi, menguras, dan membersihkan padasan serta kamar mandi semua santri.

Perjanjian itu harus Jaka jalani selama satu bulan dan tidak ada libur satu haripun. Jika Jaka melanggar sehari berarti hukumannya bertambah satu bulan.

Jaka yang berambut gondrong, ceking, berkulit hitam, ditambah dengan wajah yang lebam biru akibat perbuatannya membuat ia ditakuti oleh semua santri.

Ketika Jaka membaca syahadat yang dituntun Pak Kyai Hasan, ia merasakan getaran dahsyat dalam dirinya. Namun yang tahu hanyalah dirinya dan tampak pucat pasi parasnya. Malam pertama Jaka di pondok pesantren pun tiba, ia bermimpi aneh dan ia pun tak tahu apa gerangan tabir dari mimpi tersebut.

Waktu subuh telah datang dan datang pula kewajiban Jaka untuk menjalankan tugas. Saat adzan dikumandangkan, semua penghuni pondok pesantren di buat heran dan kagum serta penasaran siapa yang pemilik suara adzan subuh waktu itu yang syahdu dan merdu.

Waktu berjalan sangat cepat. Sudah tiga minggu Jaka menjalani hukuman. Namun tak ada perubahan pada diri Jaka. Para santri pun mengusulkan agar Jaka di usir dari pondok karena sampai tiga minggu ia berada di pondok namun tak mau mendirikan shalat. Akhirnya Jaka dipanggil oleh Pak Kyai Hasan dan ditanya mengapa ia tak mau shalat. Jaka menjawab bahwa ia tidak akan mendirikan shalat sampai ia dapat menghadirkan hati, perasaan, dan Allah dalam shalatnya. Pak Kyai tak dapat berkomentar lagi setelah beberapa alasan Jaka ungkapkan.

Namun tiga hari sebelum genap satu bulan hukuman Jaka berakhir, seantero pondok pesantren ribut dan merasa…

bersambung……

Facebook Comments

One response so far

Leave a Reply

Comments are closed at this time.