Sep 18 2008

Ilmu adalah Landasan Taqwa

Published by at 12:45 pm under Pengetahuan

Sejak awal, Islam telah menimbulkan suatu revolusi terhadap konsep agama dan maknanya bagi manusia. Berbeda dengan agama lain, agama Islam menghubungkan agama dengan sains, agama dengan politik, dunia dengan akhirat; semua hal-hal yang biasanya dilihat secara terpisah. Oleh karenanya, memahami konsep agama dalam perspektif Islam adalah sebuah kepentingan yang tidak bisa dilepaskan dari proses pembangunan kepribadian Islami.
Dalam kitab Ta’limul Muta’alim (teori-teori belajar), Syekh Az-Zurnuji menulis, “Kemudian ilmu semata-mata karena ia perantara menuju taqwa, dengannya manusia memperoleh kemuliaan di sisi Allah dan kebahagiaan abadi.”
Ibnu Rajab al-Hanbali berkata, “Dasar taqwa adalah hamba mengetahui yang harus dijaga kemudian dia menjaga diri.” Beliau juga berkata, “Barang siapa menempuh suatu jalan yang dikiranya jalan ke surga tanpa dasar ilmu, maka sebenarnya telah menempuh jalan yang paling sukar dan paling berat, dan tidak sampai kepada tujuan dengan kesukaran dan beratnya itu.” Seorang ulama salaf yang lain berkata, “Bagaimana akan menjadi muttaqin, orang yang tidak mengerti apa yang harus dijaga?”
Imam Syafi’i dalam kitab Ar-Risalah berkata, “Keharusan bagi seorang pencari ilmu untuk mencapai puncak kesungguhannya dalam memperbanyak ilmu, bersabar menghadapi rintangan yang menjauhkannya dari tujuannya, mengikhlaskan niat kepada Allah dalam mendapatkan ilmu baik secara tekstual (hafalan) maupun dengan analisa, dan berharap kepada pertolongan Allah di dalamnya karena tidak ada yang memperoleh kebaikan kecuali pertolongan-Nya.”
Imam Ghazali menulis kitab berjudul Bidayatul Hidayah. Secara umum, kitab ini berisi etika (adab) sehari-hari dalam kehidupan seorang muslim, sejak bangun tidur sampai dengan tidur kembali. Dalam muqoddimah kitab tersebut, beliau menyatakan bahwa hidayah adalah tsamratul ‘ilmi (buah dari ilmu). Dengan kata lain, hidayah tidak akan tercapai tanpa ilmu, dan niat mencari ilmu haruslah demi meraih hiayah Allah. Dalam pembukaan Bidayatul Hidayah, Imam Ghazali menulis, “Sesungguhnya hidayah merupakan buah dari ilmu mempunyai pangkal (bidayah) dan ujung (nihayah), yang tampak (zhohir) dan yang tersembunyi (batin). Tidak mungkin sampai ke ujungnya sebelum memantapkan pangkalnya. (formula)

Facebook Comments

One response so far

Leave a Reply

Comments are closed at this time.