Arsip Tag: Al Hikmah 2

Kurindukan PanggilanNya

Aliran darah berputar-putar tidak tentu arah, nyeri disekujur tubuh terutama di daerah perut tak tertahankan, mata yang telah lelah untuk terpejam sejenak pun akhirnya terjaga. Hampir 2 jam mencoba rilex dari sekian akitivas disiang hari yang menghabiskan tenaga. Lanjut membaca

Negeri 5 Menara ke Ranah 3 Warna

Sekitar enam bulan yang lalu, teman saya menenteng sebuah novel. Dengan bangga dia memberikan statement, wah, bagus sekali novel ini membuat saya melirik novel yang dibawanya. Penasaran saya terjawab. Judulnya Negeri 5 Menara. Saya belum bertanya mengenai sekilas ceritanya, atau tokohnya siapa. Tetapi dengan melihat covernya, saya merasa tidak tertarik. Mungkin karena setumpuk tugas sedang mendera saya saat itu.

Kamis, 08 Desember 2011 pkl 05.00 WIB, saya membuka situs kompas.com. Ada berita mengenai pembuatan film Negeri 5 Menara Lanjut membaca

Semangat Ngeblog

Teringat beberapa tahun yang lalu saat masih Aliyah-SMA-di Yayasan Pondok Pesantren Al Hikmah 2 Brebes, tepatnya tahun 2003. Saat mengikuti tes masuk, saya tak banyak pikir panjang. Thoh tesnya hanya mata pelajaran matematika dan membaca Al Qurân, saat itu cukup mudah bagi saya. Sebelumnya sempat melihat di brosur ada beberapa spesifikasi untuk program Aliyah, salah satunya spesifikasi komputer. Satu tujuan saya, yakni harus bisa masuk di spesifikasi tersebut. Maklum, anak desa yang masih gemerlap bila melihat dan bisa mengoperasikan komputer.

Benar prediksi itu, saya lolos tes dengan nilai tertinggi dari sekian ratus siswa. Sembilan koma lima! Entah diterima di kelas IPA pun IPS, yang terpenting bisa masuk program sepesifikasi komputer, gumam saya. Lanjut membaca

Abah Masrur, Nanda Merindu

Malam itu tidak seperti biasanya. Hati ini begitu sesak dengan luapan rasa yang hendak membuncah. Teringat dan rindu yang menyayat memenuhi rongga dada.

Hingga larut malam telah lewat, mata ini pun tidak dapat juga terpejam. Bayangan dan gambaran wajahnya terus berkelebat di depan mata. Saya tak dapat lagi menenangkan diri. Segera kuusap wajah ini dengan air wudlu yang menyegarkan.

Sekian jam bergulat dengan dan syairNya. Tetap saja, rindu itu semakin menggunung. Fajarpun telah menampakkan sinarnya. Lanjut membaca