Periodisasi Sastra 60-an

Pada periode 60-an sosial politik masih berpengaruh dan politiklah yang paling kuat sehingga para sastrawan pun banyak yang terjun pada organisasi politik, seperti Moh. Yamin, Pramudya Ananta Toer, Nugroho Notosusunto. Akibat kejadian tersebut maka mucul kotak-kotak politik, yang paling dominan adalah komunis dalam kebudayaannya adalah Lekra. Sejak tahun 1950-an dlaam dunia sastra Indonesia sudah terjadi pelbagai macam polemik yang berpangkal pada perbedaan politik. Polemik-polemik tersebut dilancarkan oleh orang-orang yang menganut paham realisme-sosialis (filsafat seni kaum komunis) yang mempertahankan semboyan “seni untuk rakyat”. Hal ini dimaksudkan untuk menghantam orang-orang tergabung dalam “seniman gelanggang merdeka” yang berpaham “humanisme universal” yang mempertahankan semboyan “seni untuk seni”. Situasi sastra periode 60-an agak menurun akibat ketidakstabilan sosial budaya. Perkembangan dan pertumbuhan sastra periode 60-an ini masih diselimuti adanya konfilk-konflik politik. Sastra periode 60-an dapat dikelompokkan menjadi dua bagian berdasarkan kurun waktu, yaitu: 1960 – 1965 dan 1965 – 1970. Pada tahun 1960 – 1965 ini tergolong masa Orde Lama (ORLA) dan terpengaruh oleh Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat). Saat ini Lekra mendapat perhatian dari pemerintah ORLA dan mendesak berkembangnya berbagai ide atau konsep di bidang sastra yang mengarah pada paham “seni untuk rakyat”. Sedangkan tahun 1965 – 1970 tergolong Orde Baru (ORBA) dan terpengaruh adanya Manifest Kebudayaan. Pada masa ini muncullah konsep-konsep yang tertuang dalam Manifest Kebudayaan dan keberadaannya memengaruhi karya sastra. Keberadaan karya sastra Manifest Kebudayaan ini dikuatkan dengan diterbitkannya majalah Horison (juli 1966), majalah Sastra (Agustus 1968). Pada tahun 1963 majalah sastra dilarang terbit oleh Lekra dan berhasil terbit lagi tahun 1968, namun pertengahan tahun 1970-an majalah sastra berhenti terbit karena kasus cerpen Langit Makin Mendung karya Ki Panis Kusmin. Kedua majalah sastra ini merupakan media sastra dan kebudayaan para pengarang yang mendukung Manifest Kebudayaan.

Situasi tahun 60-an ini memengaruhi penerbitan terutama masalah dana maka pada periode ini muncul tau terbit novel-novel populer dan berkembang sampai dengan tahun 70-an. Di sisi lain juga bermunculan pengarang-pengarang baru.

A. Latar Belakang

Pada periode 60-an muncul adanya angkatan, yaitu angkatan ’66. Lahirnya angkatan ’66 ini didahului adanya kemelut dalam segala bidang kehidupan di Indonesia yang disebabkan ulah teror politik yang dilakukan PKI dan ormas-ormas yang bernaung dibawahnya. Angkatan ’66 mempunyai cita-cita ingin adanya pemurnian pelaksanaan Pancasila dan melaksanakan ide-ide yang terkandung di dalam Manifest Kebudayaan. Tumbuhnya angaktan ’66 sejalan dengan tumbuhnya aksi-aksi sosial politik di awal angkatan ’66 yang dipelopori oleh KAMMI/KAPPI untuk memperjuangkan Tritura.

Munculnya nama angkatan ’66 telah diumumkan oleh H.B. Jassin dalam majalah Horison nomor 2 tahun 1966. Pada tulisan tersebut dikatakan bahwa angkatan ’66 lahir setelah ditumpasnya pengkhianatan G.30S/PKI. Penamaan angkatan ’66 ini pun mengalami adu pendapat. Sebelum nama angkatan ’66 diresmikan, ada yang memberi nama angkatan Manitest Kebudayaan (MANIKEBU). Alasan penamaan ini karena Manifest Kebudayaan yang telah dicetuskan pada tahun 1963 itu pernyataan tegas perumusan perlawanan terhadap penyelewengan Pancasila dan perusakan kebudayaan oleh Lekra/PKI. Beberapa sastrawan merasa keberatan dengan nama angkata manikebu. Mereka berpandangan bahwa sastrawan yang tidak ikut menandatangani atau mendukung Manifest Kebudayaan akan merasa tidak tercaku di dalamnya, meskipun hasil ciptaannya menunjukkan ketegasan dalam menolak ideologi yang dibawa oleh PKI dalam lapangan politik dan kebudayaan.

Istilah angkatan ’66 yang dikemukakan oleh H.B. Jassin melalui antologinya mendapat beberapa tanggapan dari berbagai pihak pengarang, diantaranya adalah Ajib Rosidi. Ajib menganggap bahwa penamaan dan pengajuan tesis mengenai angkatan ’66 itu kurang dapat dipertanggungjawabkan. H.B. Jasssin sendiri berpendapat bahwa angkatan ’66 ini sejalan dengan tumbuhnya aksi-aksi sosial politik di awal angkatan 66 yang dipelopori oleh KAMMI/KAPPI untuk memperjuangkan Tritura. H.B. Jassin merumuskan bahwa sastra angkatan ’66 adalah sastra yang diwarnai oleh protes dan perjuangan menegakkan keadilan berdasarkan kemanusiaan. Berdasarkan teori tersebut H.B. Jassin berpendapat bahwa tahun 1966 merupakan tahun lahirnya suatu generasi dan konsep baru dalam sastra yang kemudian disebutnya dengan nama angkatan ’66.

Ajib Rosidi melihat bahwa teori Jassin tidak konsisten, terutama dalam menunjukkan sastrawan-sastrawan yang dianggap mewakili angkatan ’66. A.A. Navis contohnya ia disebutkan sebagai pengarang angkatan ’66, namun sastrawan ini muncul sejak tahun 1950-an. Hal ini sebagai dasar Ajib Rosidi dalam menanggapi pendapat H.B. Jassin. Ia tidak melihat teori Jassin ini dapat diterapkan untuk menyebut lahirnya angkatan ’66. Masyarakat sastra pada umumnya sudah terlanjur menerima pernyataan H.B. Jassin sehingga dalam ilmu sastra pun terdapat penamaan angkatan ’66.

Pada saat menjelang tahun 1970-an sastra perotes sudah tidak bergema lagi seperti awal tahun 1960-1966. Sastra protes tersebut tercermin pada kumpulan sajak Taufik Ismail, yaitu: Tirani dan Benteng. Awal tahun 70-an mulai berkembang sastra populer dan bermunculan majalah hiburan, majalah wanita, majalah profesi. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa gema angkatan ’66 tidak dimulai pada tahun 1966 tetapi pada tahun 1966 justru angkatan ’66 mulai berakhir.

Uraian di atas telah jelas dijelaskan bahwa keadaan sastra dipengaruhi oleh situasi pada saat itu. Meskipun keadaan sosial budaya dan politik tidak stabil, namun sastra angkatan ’66 ini mengalami pertumbuhan yang cukup pesat terutama pada genre prosa.

Faktor-faktor penyebab pertumbuhan sastra cukup pesat, antara lain:

1. Adanya taman Ismail Marzuki

2. Didirikannya penerbit Pustaka Jaya

3. Adanya maecenas yang stabil. Maecenas adalah sebagai pelindung seni dan kebudayaan

4. Pemerintah DKI menyelenggarakan lomba menulis roman, naskah drama yang bisa merangsang pengarang sehingga muncul kegiatan seni budaya

B. Karakteristik

1. Muncul adanya angkatan yaitu angkatan 66

2. Karya yang dihasilkan bermacam-macam ide dan warna. Contohnya: warna lokal yang terdapat pada Ronggeng Dukuh Paruk karya Achmad Thohari

3. Tema yang diangkat banyak mengenai masalah kegelisahan batin dan rumah tangga. Kegelisahan tersebut bersumber pada siutasi budaya belum mapan dan situasi-situasi tersebut karena adanya norma politik dan norma ekonomi.

4. Adanya sastra protes, contoh: kumpulan sajak Tirani dan Benteng karya Taufik Ismail

5. Arti penting sajak angkatan ’66 pertama-tama bukanlah sebagai seni, tetapi merupakan curahan hati khas anak-anak muda yang mengalami kelegaan perasaan setelah masa penindasan.

C. Para Pengarang dan Hasil Karnyanya

Seperti telah diuraikan di atas, periode 60-an ini telah mulai bermunculan para pengarang baru, namun para pengarang lama pun masih tetap aktif berkarya. Untuk lebih jelas, simak penjabaran di bawah ini:

1. Taufik Ismail

a. Tirani (kumpulan sajak, 1966)

b. Benteng (kumpulan sajak, 1966)

c. Buku Tamu Museum Perjuangan (kumpulan sajak, 1969)

2. Bus Rasianto

a. Mereka telah Bangkit (kumpulan sajak, 1966)

b. Bumi yang Berpeluh (kumpulan cerpen, 1963)

c. Mereka Akari Bangkit (kumpulan cerpen, 1963)

d. Sang Ayah (novel, 1969)

e. Manusia Tanah Air (novel, 1969)

3. Mansur Samin

a. Perlawanan (kumpulan sajak, 1966)

b. Kebinasaan Negeri Senja (drama, 1968)

c. Tanah Air (kumpulan sajak, 1985)

4. Arifin C. Noer

a. Lampu Neon (drama, 1960)

b. Puisi-puisi yang Kehilangan Puisi (kumpulan sajak, 1967)

c. Kapai-kapai (drama, 1970)

5. Satyagraha Hoerip

a. Rahasia Kehidupan Manusia (roman, terjemahan dari Leo Tolstay, 1964)

b. Ontologi Persoalan-persoalan Sastra (1969)

6. Sapardi Djoko Damono

a. Dukamu Abadi (kumpulan sajak, 1969)

b. Matahari Pagi di Tanah Air (puisi)

c. Doa di Tengah-tengah Masa (puisi)

d. Sajak Orang Gila

7. Slamet Kirmanto

a. Jaket Kuning (kumpulan sajak, 1967)

b. Kidung Putih (kumpulan sajak, 1967)

8. H.B. Jassin

a. Angkatan ’66, Prosa dan Puisi (1968)

9. A. Bastari Asnin

a. Di Tengah Padang (kumpulan cerpen)

b. Laki-laki Berkuda (kumpulan cerpen)

Para pengarang wanita angkatan ’66 antara lain:

1. Isma Sawitri

a. Terima Kasih

b. Tiga Serangkai

c. Pantai Utara

2. Siti Said

a. Perjuangan dan Hati perempuan (kumpulan cerpen)

3. Etis Basimo

a. Rumah Dara (cerpen)

b. Laki-laki dan Cinta (cerpen)

4. Enny Sumargo

a. Sekeping Hati Perempuan (novel)

Selain para pengarang tersebut di atas masih banyak lagi para sastrawan angkatan ’66 yang tidak disebutkan di atas.

D. Problematika

1. Sajak, cerpen, essai yang menyanyikan kemenangan perjuangang yang ditulis oleh Lekra

2. Karya sastra yang dihasilkan yang tergabung dalam Manifest Kebudayaan yang ingin membela martabat manusia yakni ingim membela kebebasan manusia yang diinjak-injak oleh tirani mental dan fisik. Perjuangan antara dua kelompok tersebut akhirnya dimenangkan oleh kelompok Manifest Kebudayaan setelah terjadi G.30 S/PKI ditumpas oleh Orde Baru.

E. Peristiwa Budaya

1. Pelemik tentang tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.

Dalam sebuah artikel harian bintang timur, 7 September 1962, pengarang Abdullah SP, mengucapkan bahwa Hamka sangat mirip dengan pujangga Mesir Al Manfaluthi, gaya bahasanya, jalan pikirannya, dan perasaannya. Tenggelamnya kapal Van Der Wijck karya Hamka sangat mirip dengan Magdaline karya Manfaluthi. Namun Adanan H menyatakan bahwa Abdullah SP telah melakukan tuduhan sembrorno. Sebagai bukti kecerobohan Abdullah SP, Adnan H memberikan tuduhan kalimat sebagai berikut:

Kalimat Manfaluthi

Kalimat Hamka

Apakah artinya harta ini tempatku setelah kau hilang dari padaku, Stevens? Ke mana lagi langit bernaung, setelah hilang dari padaku Zainuddin?

Jassin juga membuat kesimpulan bahwa pada Hamka ada pengaruh Al Manfaluthi. Ada garis-garis persamaan tema, plot, dan buah pikiran. Tapi Hamka menimba dari sumber pengalaman dan inspirasinya sendiri.

2. Heboh sastra 1968 tentang Langit Makin Mendung

Sesuai dengan teori otonomi seni yang di dalamnya terdapat paham yang berbunyi “seni untuk seni”, seni tidak perlu mengabdi kepada apapun di luar dirinya dan seni tidak boleh dinilai dengan ukuran-ukuran baku yang bersifat estetik seperti ukuran moral, agama dan lain sebagainya. Maka HB. Jassin memuat cerpen Langit Makin Mendung karya Ki Paji Kusuma dalam majalahnya.

Hal ini banyak menuai protes dan hujatan dari semua umat Islam dan ulama pada waktu itu, karena cerpen Langit Makin Mendung dinilai telah menghina Tuhan dan nabi Muhammad SAW, sehingga pada tanggal 12 Oktober 1968 Kejaksaan Tinggi Medan melarang kritik cerpen tersebut diterbitkan. Namun penghentian itu menimbulkan kritik dari para seniman yang ada di Medan dan Jakarta.

3. Heboh hadiah sastra

Hadiah yang diberikan H.B. Jassin kepada pengarang terbaik dalam majalahnya, Horison. Hal ini pertama kalinya ada dalam sejarah sastra Indonesia, yang mana pengarang mendapat hadiah itu adalah Motinggo Busye.

4.Munculnya sastra majalah

Pada periode 60-an muncul adanya sastra majalah atau majalah yang memuat karya-karya sastra seperti Horison dan Basis. Ini terjadi karena majalah adalah media baca yang paling diminati saat itu, sehingga para pengarang mencoba menarik simpati masyarakat terhadap karya sastra melalui majalah.

Facebook Comments

Leave a Reply

3 thoughts on “Periodisasi Sastra 60-an

  1. Muhammad Djuniar Margani

    Saya kurang tertarik dengan priodisasi angkatan 60-an di atas karena sudah banyak diulas. Satu hal yang menarik sekaligus mengusik keingintahuan saya adalah penyebutan gerakan mahasiswa waktu itu sebagai KAMMI/KAPPI. Saya perlu meluruskan, gerakan mahasiswa waktu itu bukan KAMMI, tapi KAMI. KAMMI itu kan baru seumur jagung kemarin. Saya tidak tahu apa maksud penulisnya? Ingin menyamarkan sejarah pergerakan mahasiswa? Perlu diingat sesungguhnya, KAMI dan KAMMI spiritnya amat sangat berbeda, kalau tidak menyebutnya berlawanan.

    Penyamaran sejarah yang mungkin adalah seolah-olah KAMMI itu gerakan panjang dari massa mahasiswa 60-an, padahal KAMMI itu sejalan dengan hingar bingar gerakan mahasiswa pasca reformasi. Mudah-mudahan saya salah, dan penulisnya tidak bermaksud mencatut sejarah. Terima Kasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *