Ibu, Ijinkan Aku Memelukmu!

Jimmy, aku muak mendengar namamu disebut.

Tak jarang kumendapati dia menangis dan mengelu-elukan namamu. Ia pun meremas dan memukuliku. Apa salahku hingga hatinya tak sudi jika aku hadir didepannya?

Sejatinya itu bukan mauku. Kau yang memaksaku hadir. Kau yang menyebabkanku terbentuk. Karena perbuatanmu itulah kini aku hadir disini. Terpenjara dalam sunyi.

Kesekiankali kau membiarkan perutku kelaparan. Bahkan dihari ke tujuh kau memaksa dan rela memasukkan makanan pahit yang hampir merenggut nyawa itu kemulutku.

Namun tak jarang pula kau membelai dan merangkulku. Kau beri aku makanan kesukaanku. Aku bingung dengan sikapmu. Apa yang membuatmu menjadi seperti ini? Mengapa pula aku yang kau jadikan sasaran? Apa salahku?

Tengah malam, seperti biasa ia mengajakku melakukan ritualnya. Malam ini aku merasakan ada yang lain.

“Apa yang telah kuperbuat tak bisa terulang untuk tidak kulakukan. Yang hadir hanyalah penyesalan dan dia. Aku tak ingin Kau murka kepadaku. Aku tak ingin membunuhnya. Maafkan aku telah menerima tawaran Jimmy untuk memberi obat itu hingga membuat ia tersiksa. Ijinkan aku merawatnya. Bantu aku ya Tuhan,” terasa belaian lembutnya kali ini membuatku tak dapat menahan haru. Tangisnya pun pecah. Ia memelukku.

“Nancy bagaimana kabarmu? Sudah kau berikan obat yang kukasih kemarin?” suara lelaki itu kembali terdengar menanyakan obat tempo hari yang membuatku tersiksa.

Aku takut mendengar jawaban Ibu. Akankah ia menuruti ajakan Jimmy?

Ibu memandang dan membelaiku dengan penuh kasih. Semula kumenggigil, kini kudapat tersenyum lega. Kudapat memeluknya erat. Kini aku yakin. Ibu menyayangiku, Ibu kan melindungiku selalu.

“Maaf Jim, aku membuatmu resah. Saat di rumah sakit kemarin ada kesalahan administrasi. Surat laporan itu tertukar dengan pasien lain yang kebetulan namanya sama denganku,” jawab Ibu dengan tangis yang ia sembunyikan agar tak terdengar oleh Jimmy.

Ibu menutup telponnya. Ia memelukku semakin erat.

“Nak, maafkan Ibu. Ibu membohongi ayahmu. Ibu tak ingin melukaimu. Mungkin dengan begini Ibu dapat merawatmu dengan tenang. Biarlah kau tak dapat menjumpai ayahmu beberapa tahun, tak dapat mengenali kakek dan nenekmu. Tapi cukuplah kau punya Ibu, Ibu punya kau, kita berjuang bersama sayang. Maafkan Ibu,” tangisku bersamanya semakin menderu tapi membuatku semakin kuat, berjuang bersama Ibu.

Hariku indah bersamanya. Saat kupandang lekat wajah Ibuku dikala ia tertidur lelap dengan padatnya aktivitas siang hari banting tulang mengais rizki untuk memberiku makanan, vitamin agarku tetap sehat, aku tak sanggup untuk hanya sekedar menggeliat.

Tak jarang Ibu pulang larut malam demi menyelesaikan pekerjaannya dan membawakan susu kesukaanku.

Beberapa menit sebelum tidur, Ibu selalu bercerita tentang ayah. Darinya seakan aku mengenal ayah, seakan kubersamanya. Ayah seorang pemimpin yang baik. Ayah seorang dermawan. Ayah yang bijaksana. Ayah yang mempunyai segudang aktivitas. Ayah yang selalu harus pergi keluar kota ditiap minggunya. Ayah yang patut kuteladani pinta Ibu.

Ibu bagiku sosok semuanya yang ia certiakan tentang ayah. Ayah tak menginginkanku ada. Dia yang selalu berusaha membujuk Ibu untuk membunuhku. Mengapa yang Ibu ceritakan tentang ayah tak kurasakan saat kumembutuhkannya. Ia tak hadir antara aku dan Ibu.

***

Pagi ini, Ibu mengajakku bermain air. Air di dalam bak cucian pakaian bajunya. Butiran-butiran udara yang Ibu tiupkan membuatku seakan ingin menggenggamnya dan kukembalikan pada Ibu. Kami berlari menanggkap butiran-butiran kebahagiaan itu.

Setelah pakaian-pakaian itu dijemur di loteng, Ibu mengajakku menuruni anak tangga. Sempat kuingin menjerit dan berkata pada Ibu untuk mengeringkan tangan dan kakinya terlebih dulu. Namun Ibu sudah cepat melangkahkan kaiknya. Dan Bruakkk!!! Semua gelap.

***

Mataku mulai terbuka. Aku disebuah ruangan bercat putih, bersih dan rapi. Namun penuh dengan aroma obat yang menyengat. Terlihat seorang laki-laki berpakaian putih dan berkacamata datang menghampiri. Belum sempat ia mendekat, kepalaku terasa sakit dan kembali gelap.

Setelah beberapa menit, aku dapat kembali melihat wajah mulia Ibuku. Ia membelaiku dan gelap datang kembali.

Seorang lelaki berpakaian putih dan berkacamata itu datang kembali menghampiri. Terlihat sebuat alat suntik yang berisi cairan bening di tangan lelaki itu dan ditusukkannya cairan itu pada Ibu.

***
Tiba-tiba…

“Dok, darah perempuan di kamar Yasmin itu terus mengalir!” kata salah seorang perawat.

Lelaki itu segera menuju kamar yasmin.

“Kita harus memilih, Ibu atau anaknya yang harus diselamatkan. Kondisi Ibu ini tak akan bertahan jika tak segera dikeluarkan.”

“Kau! Siapkan segera perlengkapan operasi Ibu ini,” perintah lelaki itu kepada perempuan disampingnya.

Suasana menjadi hening. Semua sibuk dengan tugasnya masing-masing. Tangan mereka berlumuran darah. Mereka berhasil memisahkanku dari Ibuku. Setelah semua keluar, mereka menyusun tubuhku hingga nampak seperti bayi sempurna.

Ibu, kutunggu kau dipintu surgaNya.

Z UM

Facebook Comments

Leave a Reply

6 thoughts on “Ibu, Ijinkan Aku Memelukmu!

  1. robiah Penulis

    >> Suryo: Wa’alaikumsalam. Mampir ya bawa oleh2 dong,.
    >> Dloen : Sini nak, Ibu peluk!
    >> Novi: bacanya jangan terburu-buru dong, gak ada yang ngejar2 koq, he

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *